Menjadi Asesor UKK di SMK Plus Al-Istiqomah

Kegiatan Asesmen UKK di SMK Plus Al-Istiqomah
Dede Alamsyah

myLog Pro - "Menilai, Sekaligus Belajar"

Dokumentasi Asesmen UKK SMK Plus Al-Istiqomah

Hari itu saya mendapat kepercayaan untuk menjadi asesor dalam Uji Kompetensi Keahlian (UKK) di SMK Plus Al-Istiqomah, Garut. Sebuah tanggung jawab yang bagi saya bukan hanya sekadar menjalankan peran formal sebagai penilai, tetapi juga sebagai kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana proses pendidikan dijalankan di lingkungan yang berbeda.

SMK Plus Al-Istiqomah memiliki karakter yang cukup unik. Berbasis pesantren, sekolah ini identik dengan penanaman nilai-nilai keagamaan yang kuat. Dalam banyak persepsi umum, lingkungan seperti ini seringkali dianggap lebih fokus pada aspek spiritual dibandingkan pengembangan keterampilan teknis. Namun justru di sinilah letak kejutan yang saya temukan.

Hari itu membuka perspektif saya.Ketika sesi UKK dimulai, satu per satu siswa mempresentasikan hasil karya mereka, khususnya dalam bidang multimedia. Saya memperhatikan dengan seksama bukan hanya dari sisi hasil akhir, tetapi juga dari cara mereka menjelaskan, mempertanggungjawabkan, dan memahami apa yang telah mereka buat.


Beberapa karya langsung menarik perhatian. Bukan karena tampilannya yang sempurna, tetapi karena ada sesuatu yang lebih dalam: pemahaman.

Saya melihat bagaimana siswa mampu menjelaskan konsep yang mereka gunakan. Mereka tidak hanya membuat, tetapi juga tahu alasan di balik setiap keputusan desain. Ini menunjukkan bahwa proses belajar yang mereka jalani tidak berhenti pada “menyelesaikan tugas”, melainkan benar-benar sampai pada tahap memahami.

Dari sisi eksekusi visual, beberapa karya menunjukkan kualitas yang cukup baik. Komposisi, pemilihan warna, hingga penyampaian pesan sudah berada di level yang layak diapresiasi. Tentu masih ada kekurangan di sana-sini, namun itu hal yang wajar dalam proses belajar. Yang paling menarik adalah keberanian mereka dalam menyampaikan ide.

Tidak semua siswa berada di zona nyaman. Ada yang mencoba pendekatan berbeda, ada yang berani keluar dari template umum, dan ada pula yang berusaha menyampaikan pesan dengan cara yang lebih personal. Hal-hal seperti ini menjadi indikator bahwa mereka tidak hanya belajar secara teknis, tetapi juga mulai membangun identitas dalam berkarya.

Beberapa di antara mereka bahkan layak mendapatkan predikat terbaik. Dan itu bukan keputusan yang didasarkan pada standar yang diturunkan, melainkan karena memang kualitas yang mereka tampilkan layak untuk diapresiasi. Di titik ini, saya menyadari satu hal penting.

Sebagai asesor, mudah sekali untuk terjebak dalam pola pikir “mencari kesalahan”. Fokus pada apa yang kurang, apa yang tidak sesuai standar, dan apa yang perlu diperbaiki. Itu memang bagian dari tugas. Namun jika hanya berhenti di sana, maka kita kehilangan satu hal yang tidak kalah penting: mengakui kualitas.

Hari itu, saya belajar bahwa proses menilai seharusnya tidak hanya bersifat evaluatif, tetapi juga apresiatif. Karena di balik setiap karya, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada usaha, ada revisi, ada kebingungan, dan ada pembelajaran yang tidak selalu berjalan mulus. Ketika seorang siswa mampu menghasilkan sesuatu yang baik, sekecil apapun itu, maka hal tersebut layak untuk diakui.

Pengalaman ini juga mematahkan satu asumsi yang sering muncul dalam dunia pendidikan. Bahwa kualitas sangat ditentukan oleh fasilitas. Memang, fasilitas memiliki peran. Namun bukan satu-satunya faktor. Apa yang saya lihat di SMK Plus Al-Istiqomah menunjukkan bahwa kualitas lebih banyak dipengaruhi oleh proses pembelajaran, pendekatan pengajaran, dan yang paling penting: mindset siswa itu sendiri.

Ketika siswa memiliki kemauan untuk belajar, didukung oleh pembimbing yang serius, maka hasilnya bisa melampaui ekspektasi bahkan di lingkungan yang mungkin dianggap “terbatas”. Di sisi lain, pengalaman ini juga menjadi refleksi pribadi bagi saya sebagai seorang pengajar.

  • Apakah selama ini saya sudah cukup memberi ruang bagi mahasiswa untuk benar-benar memahami, bukan hanya menyelesaikan tugas?
  • Apakah pendekatan yang saya gunakan sudah mendorong mereka untuk berpikir, atau hanya mengikuti instruksi?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul bukan karena ketidakpuasan, tetapi karena kesadaran bahwa proses mengajar selalu bisa ditingkatkan. Menjadi asesor hari itu bukan hanya tentang memberikan nilai kepada siswa. Tetapi juga tentang mengevaluasi diri sendiri.

Saya melihat bagaimana siswa mampu berkembang di lingkungan yang mungkin tidak selalu dianggap ideal. Dan itu menjadi pengingat bahwa peran pengajar sangat besar dalam menentukan arah dan kualitas pembelajaran.

Insight Profesional

Kualitas tidak selalu ditentukan oleh fasilitas atau branding institusi, tetapi oleh proses, pembimbingan, dan mindset belajar siswa.

Nilai

Sebagai asesor, tugas bukan hanya memberi nilai, tetapi juga mengakui kualitas dan memberi apresiasi yang layak.

Arah ke Depan

Pengalaman ini menjadi standar pribadi bahwa kualitas harus tetap dijaga, baik sebagai pengajar maupun sebagai penilai.

#myLog-Pro #D.A

Posting Komentar